Sekretaris Asosiasi MRP se-Tanah Papua Serukan Etika dan Kesejukan dalam Menyikapi Pernyataan Publik
Sekretaris Asosiasi Majelis Rakyat Papua (MRP) se-Tanah Papua, Judson Fersinandus Waprak, menyampaikan keterangan kepada publik sebagai bentuk respons konstruktif dan penuh penghormatan terhadap pernyataan yang disampaikan oleh Paul Ficen Mayor terkait pelaksanaan Otonomi Khusus di Tanah Papua.
Dalam keterangannya, Judson menyampaikan apresiasi atas pernyataan Paul Fincen Mayor yang pada prinsipnya menegaskan bahwa tidak terdapat hal yang ditutup-tutupi dalam proses pembangunan Otonomi Khusus di Tanah Papua. Menurutnya, pernyataan tersebut memiliki nilai penting dalam menjaga transparansi serta membangun kepercayaan publik terhadap jalannya pembangunan di wilayah Papua.
“Pernyataan tersebut pada dasarnya mempertegas komitmen terhadap keterbukaan informasi dalam pelaksanaan Otonomi Khusus. Hal ini menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat,” ujarnya.
Meski demikian, Judson juga mengingatkan bahwa sebagai pejabat publik sekaligus bagian dari masyarakat adat Papua, setiap individu memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga etika dalam menyampaikan pendapat di ruang publik. Ia menekankan pentingnya kebijaksanaan dalam bertutur kata, terutama bagi kalangan intelektual yang memiliki pengaruh besar terhadap opini masyarakat.
“Kita semua perlu menjaga tutur kata dan kebijaksanaan dalam berbicara. Jangan sampai sebagai kaum intelektual justru keliru dalam memberikan informasi, baik kepada masyarakat Orang Asli Papua maupun kepada publik secara nasional,” tegasnya.
Lebih lanjut, Judson berharap agar Paul Fincen Mayor dalam menyampaikan pandangan, khususnya yang bersifat prinsipil terkait pembangunan Otonomi Khusus Papua, tetap mengedepankan etika, kesejukan, serta semangat membangun dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ia menilai, pendekatan yang mengedepankan etika komunikasi akan membuat setiap pernyataan lebih mudah diterima oleh berbagai pihak, baik oleh lembaga MRP se-Tanah Papua, lembaga lainnya, maupun masyarakat luas. Selain itu, menurutnya, ketokohan seseorang di Tanah Papua tidak hanya diukur dari substansi yang disampaikan, tetapi juga dari cara penyampaiannya yang mencerminkan nilai budaya, adat istiadat, dan martabat Orang Asli Papua.
Judson juga menyampaikan keyakinannya bahwa dengan menjaga etika, saling menghormati, serta mengedepankan dialog yang konstruktif, setiap perbedaan pandangan dapat disatukan menjadi kekuatan bersama dalam membangun Papua yang lebih baik.
Ia menegaskan bahwa keterangan ini disampaikan sebagai wujud komitmen untuk menjaga keharmonisan, memperkuat persatuan, serta memastikan bahwa pelaksanaan Otonomi Khusus di Tanah Papua berjalan dalam suasana yang bermartabat, berbudaya, dan penuh tanggung jawab bersama